KLATEN (16/08/2024) - Program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Universitas Diponegoro monodisiplin bertajuk "Pemanfaatan Fermentasi Gula Jawa sebagai Bio Attractant untuk Perangkap Nyamuk Ramah Lingkungan Berbasis Bioteknologi" oleh Sultan Akmal, mahasiswa Program Studi Bioteknologi, berhasil terlaksana dengan sukses pada Selasa, 30 Juli 2024, pukul 16.00 hingga 17.00 WIB di acara PKK Dukuh Nalan, Kelurahan Tarubasan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Pemanfaatan Teknologi Fermentasi dan Keunggulannya
Dalam program edukatif ini, Perangkap nyamuk dibuat dengan memanfaatkan fermentasi Saccharomyces cerevisiae, yaitu jenis ragi yang umum digunakan dalam pembuatan roti dan minuman beralkohol. Proses fermentasi ini menghasilkan karbon dioksida dan alkohol, dua zat yang dikenal sebagai daya tarik kuat bagi nyamuk. Karbon dioksida menyerupai bau napas manusia, sedangkan alkohol meningkatkan daya tarik perangkap, membuat nyamuk lebih tertarik mendekat.
Metode ini sederhana dan hemat biaya, hanya memerlukan gula jawa sebagai sumber karbon dan ragi sebagai agen fermentasi. Kedua bahan tersebut dimasukkan ke dalam botol plastik bekas yang telah dirancang khusus. Desain botol memastikan bahwa nyamuk yang masuk tidak dapat keluar, sehingga mereka akhirnya terperangkap dan mati. Selain berfungsi sebagai perangkap nyamuk, penggunaan botol plastik bekas juga berkontribusi dalam pengurangan limbah anorganik yang sering kali menjadi sarang nyamuk, terutama di musim hujan.
Acara dimulai dengan demonstrasi pembuatan perangkap nyamuk oleh Sultan Akmal, yang memperlihatkan cara pembuatan perangkap nyamuk. Beliau juga memamerkan perangkap yang telah disiapkan sebelumnya, lengkap dengan nyamuk yang sudah tertangkap di dalamnya. Para peserta acara, yang terdiri dari ibu-ibu PKK, diberi penjelasan rinci mengenai bahan-bahan yang digunakan dan cara kerjanya, sehingga mereka dapat mengaplikasikan konsep bioteknologi sederhana ini di rumah masing-masing.
Sebagai pendukung edukasi, Sultan juga membagikan leaflet yang berisi panduan langkah demi langkah pembuatan perangkap nyamuk. Panduan ini tidak hanya mencakup cara pembuatan, tetapi juga informasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar, terutama dalam pengelolaan sampah yang bisa menjadi sarang nyamuk, serta pentingnya mencegah genangan air yang sering menjadi tempat bertelur nyamuk.
Sebanyak 20 ibu-ibu PKK yang hadir tampak sangat antusias mengikuti pemaparan ini. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai aspek terkait pembuatan dan penggunaan perangkap nyamuk, termasuk tips untuk meningkatkan efektivitas alat, perawatan perangkap, serta potensi aplikasi lain dari teknologi fermentasi ini. Suasana diskusi berlangsung penuh semangat, dengan banyaknya pertanyaan menarik yang diajukan seputar efektivitas perangkap, perawatan, dan pemanfaatan lainnya dari teknologi fermentasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya pemanfaatan limbah dan pengendalian nyamuk dengan cara yang ramah lingkungan. Para peserta pun berharap agar program serupa dapat terus dilakukan untuk mencegah penyebaran DBD dan menjaga kesehatan lingkungan sekitar.